Sejarah Danau Toba di Sumatera Utara Yang Wajib Diketahui

Sejarah Danau Toba

Sejarah Danau Toba – Danau Toba merupakan tempat wisata yang sering dikunjungi di Sumatera Utara karena keindahan alamnya. Belakangan, danau ini menjadi sorotan publik menyusul tenggelamnya KM Sinar Bangun, Sebanyak 184 penumpangya dinyatakan hilang, tiga meninggal dan 19 orang selamat dalam peristiwa itu.

Keluarga korban dan publik Indonesia tentu sangat terpukul. Apalagi bangkai kapal dan korbannya tidak bisa dievakuasi karena alasan kedalaman danau terbesar di Asia Tenggara itu.

Sejarah Danau Toba di Sumatera Utara

Bagaimana asal usul dan sejarah Danau Toba ini? Cerita Pagi kali ini akan mengulasnya dari beberapa sumber dan penelitian para ahli. Danau ini terletak di tengah-tengah provinsi Sumatera Utara dan dikelilingi tujuh kabupaten yaitu, Kabupaten Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo dan Toba Samosir, dan Tapanuli Utara.

Danau tekto-vulkanik ini merupakan danau terbesar di Asia Tenggara karena memiliki panjang 87 kilometer, lebar 27 kilometer, lokasi ketinggian 904 meter di atas permukaan laut. Dan kedalamannya mencapai 505 meter.
Secara geografis, Danau Toba berada pada koordinat 980,300 s/d 990,010 Bujur Timur dan 20,240 s/d 20,480 Lintang Utara. Danau ini dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah dengan tipe iklim C sampai E, suhunya berkisar antara 170-290 C dan kelembapan udara rata-rata 85,04 persen.

Dari Danau Toba ini, mengalir sebuah sungai besar yaitu sungai Asahan. Sungai ini mengalir ke dataran rendah sampai ke daerah perairan selat Malaka di timur pulau Sumatera. Derasnya aliran sungai ini pada akhirnya dimanfaatkan pemerintah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Awal Terbentuknya Sejarah Danau Toba, sebelumnya adalah gunung berapi yang disebut gunung Toba. Informasi yang dikutip dari sejarahlengkap.com menyebutkan, gunung ini memiliki kantong magma sangat besar yang jika meletus akan menghasilkan daya ledak yang sangat tinggi.

Kantong magma Gunung Toba disuplai oleh banyaknya lelehan sediman lempeng benua yang saling bergesek secara hiperaktif, yaitu lempeng Indo-Australia yang mengandung banyak sedimen, dan lempeng Eurasia yang menjadi tempat duduknya Pulau Sumatera. Letak kedua lempeng itu berada di kedalaman 150 km di bawah bumi.

Gesekan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menghasilkan panas sehingga melelehkan bebatuan. lelehan tersebut kemudian naik ke atas sebagai magma. Oleh karena seringnya kedua lempeng ini bergesekan, magma yang dihasilkan cukup banyak sehingga dapat menciptakan ledakan yang begitu dahsyat.

Dari beberapa literatur, tercatat bahwa Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Pertama, letusan pertama gunung Toba terjadi sekitar 800 ribu tahun yang lalu dan membentuk kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Porsea dan Prapat.

Kedua, Letusan kedua terjadi sekitar 500 ribu tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera di utara Danau Toba, yaitu daerah antara Haranggaol dengan Silalahi.

Ketiga, Gunung Toba terakhir meletus pada 74.000 tahun lalu. Letusan terakhir ini disebut-sebut sebagai letusan paling dahsyat dalam sejarah Dunia. Meskipun sama sekali tidak tercatat di dalam buku, namun bukti-bukti ilmiahnya bisa ditemukan di masa kini.

Para ahli memperkirakan letusan gunung Toba menghasilkan ledakan supervulkanik dengan skala sekitar 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI). Jika dibuat perbandingan, ledakan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki memiliki daya ledak 0,015 megaton TNT, letusan gunung Krakatau berdaya ledak 150 megaton TNT, maka letusan gunung Toba diperkirakan berdaya ledak 26000 megaton TNT dan mampu menghancurkan area Sumatera seluas sekitar 20.000 km2.

Letusan terakhir Gunung Toba memuntahkan lebih dari 1000 kilometer kubik material letusan. Ketinggian letusannya mencapai 50 km. Material abunya menyebar ke seluruh atmosfer bumi hingga menutupi cahaya matahari yang masuk ke bumi selama beberapa tahun. Akibatnya temperatur bumi saat itu menjadi turun sampai 3-5 derajat celcius.

Di samping menghasilkan tsunami yang besar, letusan Gunung Toba juga mengakibatkan kematian massal manusia dan beberapa spesies mahluk hidup lainnya. Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, letusan gunung ini diduga menyusutkan lebih dari 60% populasi manusia saat itu, yaitu sekitar 60 juta jiwa.

Dugaan ini didasarkan atas dua hal. Pertama, material abu yang jatuh ke seluruh dunia telah menimbun sebagian habitat manusia. Kedua, tidak adanya cahaya yang masuk menyebabkan tidak terjadinya fotosintesis tumbuhan. Hal ini berimbas pada langkanya bahan makanan sehingga mengakibatkan kelaparan dahsyat yang berujung pada kematian masal.

Setelah meletus, gunung ini membentuk kaldera yang kemudian terisi air dan akhirnya menjadi danau terbesar di Asia Tenggara. Danau inilah yang dikenal dengan nama Danau Toba.

Meskipun para ahli masih bebeda pendapat soal ini, Tim multidisiplin peneliti internasional yang dipimpin Dr Michael Petraglia mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat telah menemukan sebuah situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India.

Situs itu mengungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba 74.000 tahun yang lalu, dan bukti kehidupan di bawah abu Gunung Toba. Meskipun sumber letusan dalam 3.000 mil, dari distribusi abu.

Selama tujuh tahun, para ahli dari proyek Universitas Oxford meneliti ekosistem di India, untuk mencari bukti kehidupan kehidupan dan peralatan yang mereka tinggalkan di padang pasir tandus. Daerah dengan luas ribuan hektare ini hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang hewan yang tersebar. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup besar ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari letusan Supervolcano kuno, yaitu Gunung Toba. Mengarah dugaan ke Mount Toba, karena ditemukan bukti bentuk abu vulkanik dari molekul yang sama pada 2100 poin.

Sejak kaldera kawah yang sekarang adalah danau Toba di Indonesia, 3.000 mil, dari sumber letusan. Bahkan, cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu yang akan direkam ke Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan gunung berapi super Toba saat itu.

Pulau Pulau Sejarah Danau Toba

Ada yang menarik, di tengah Danau Toba, terdapat lima pulau yang membuat pemandangan alamnya semakin indah. Pulau-pulau tersebut muncul akibat tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar. Lima pulau tersebut adalah Pulau Samosir yang kini dimekarkan menjadi sebuah kabupaten. Pulau Samosir adalah pulau tengah danau terbesar ke lima di Dunia.

Konon, pulau ini dulunya menyatu dengan pulau Sumatera dan berbentuk seperti sebuah tanjung di Danau Toba. Kemudain pada masa penjajahan Belanda dibangunlah kanal sungai sehingga memutuskan dataran Samosir dengan dataran Sumatera. Akhirnya Samosir menjadi pulau sendiri.

Pulau Samosir ini sudah berabad-abad dihuni oleh manusia dari suku batak. Di Pulau Samosir dan tepi danau Toba inilah mereka mengembangkan budayanya serta mengembangkan keturunan mereka menjadi lima kelompok kesukuan Batak, yakni Pakpak-Dairi, Angkola-Mandailing, Simalungun, Karo, dan Toba.

Selain itu, ada Pulau Tao yang panjanganya hanya sekitar 1 kilometer dan berada di sebelah Timur Pulau Samosir. Di pulau ini dulunya terdapat sebuah hotel dan restoran, namun karena pulau ini jarang dikunjungi wisatawan, akhirnya hotel ini ditutup. Dari pulau ini, wisatawan dapat melihat pemandangan Bukit Barisan serta keutuhan Pulau Samosir.

Kemudian, Pulau Sibandang yang merupakan pulau terbesar kedua di Danau Toba dan terletak di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Pulau Sibanding dikenal juga dengan pulau mangga karena menjadi salah satu pusat penghasil buah mangga yang memiliki rasa manis.

Pulau Sibandang ini dihuni oleh empat marga yaitu marga Simare-mare, Siregar, Oppusunggu dan Rajagukguk. Selain mangga, sumber penghasilan masyarakat ini berasal dari tangkapan laut yang berupa ikan mujair, ikan pora-pora dan ikan lainnya.

Ada juga Pulau Tulas. Secara administratif, Pulau Tulas berada di Kecamatan Sianjur Mulamula Kabupaten Samosir. Pulau ini disebut-sebut masih perawan karena belum tersentuh oleh manusia. Keseluruhan pulau ini diselimuti oleh hamparan warna hijau karena hanya ditumbuhi semak belukar dan beberapa jenis hewan.

Terakhir adalah Pulau Toping, pulau yang berada di ujung Danau Toba, tepatnya di desa Silalahi Kabupaten Dairi. Menurut informasi yang beredar, kedalaman Danau Toba hanya bisa diukur di kawasan Silalahi ini. Sama seperti Pulau Sibandang, Pulau Toping yang berukuran kecil ini dikelilingi bebatuan kecil yang tersusun rapi secara alami, sehingga menambah indah pesona alamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *